Enny, Merindukan Masa Kecil...

Teks: Wendra Wijaya

Foto: DS. Putra

Tumbuh sebagai gadis remaja yang cantik dan cerdas, namun Enny masih merindukan masa kanak-kanak. Dua bagian hidup yang tak dapat dipertentangkan, memang. Sebuah fase yang memberi arti dan kenangan yang berbeda pula. Tapi bagi gadis remaja ini, masa kanak-kanak tetap menjadi satu bagian yang mendasari langkahnya dalam menapaki kehidupan. “Kesenangan dan ketenangan hidup selalu saya dapatkan di masa kecil. Di sana ada cinta, kedamaian, keriangan, dan kejujuran. Ini juga yang selalu membawa kerinduan saya pada masa-masa itu. Kalau bisa saya ingin kembali ke masa itu, sekali saja,” kata Enny mengawali perbincangan kami.

Cukup banyak yang mengenal sosok Enny. Maklum saja, penyuka warna merah jambu ini termasuk salah satu presenter di Jimbarwana TV —sebuah stasiun televisi lokal milik Pemkab Jembrana. Mungkin banyak juga yang menduga, ketegasan raut mukanya menggambarkan keteguhan hatinya sehingga menimbulkan kesan jutek atau….
“Bukannya gitu, saya cuma gak tahu cara memulainya saja. Mungkin banyak orang berpikiran saya jutek dan sombong, ditambah lagi bapak bekerja sebagai salah satu anggota DPRD Jembrana. Tapi jujur saja, sebenarnya saya malu kalau baru bertemu seseorang. Kalau bisa, sapalah saya duluan dan semuanya akan beda,” potong gadis belia berusia 18 tahun ini. Dan benar saja, obrolan kami tiba-tiba hangat. Canda, tawa, keriangan dan sifat familiar yang ditunjukkan pemilik nama lengkap Ni Putu Enny Putu Suardi ini seketika merubah image-nya sebagai “perempuan kaku” yang melekat dalam dirinya. Setidaknya itu pandangan saya.
Mengaku mengagumi Ira Kusno, Enny bergabung dan mengasah kemampuannya yang selama ini tersembunyi dibalik kejenakaannya di Santi Sastra Production. Kecintaannya pada dunia sastra pun turut memberi andil dalam proses kreatifnya. “Walaupun tidak langsung, saya menempatkannya (Ira Kusno-pen) sebagai guru. Membayangkan diri menjadi Ira Kusno, saya mulai belajar berbicara di depan cermin dengan menonjolkan olah vokal dan ekspresi. Kedewasaan dan kecerdasan Ira Kusno sudah menjadi acuan untuk mengikuti jejaknya, walau saya sadar itu sangat sulit dicapai. Semuanya butuh proses dan waktu yang panjang,” ucap putri pertama pasangan I Ketut Suardi dan Ni Made Wartini ini.
Kesibukannya menjadi presenter ternyata tak membuat Enny melupakan pendidikan formalnya. Gadis kelahiran 2 Oktober 1989 ini juga tercatat sebagai salah satu mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Dan ternyata, ketulusan, keikhalasan dan kepolosan anak-anak kembali mendasarinya untuk mencapai cita-citanya itu
“Sebenarnya presenter dan dokter hampir tidak ada bedanya. Semuanya harus memiliki dasar kuat untuk menjadi profesional. Dan disinilah sastra mengambil tempat dan berperan penuh. Keahlian atau seni komunikasi mutlak menjadi kunci keberhasilannya. Bagi saya, kerja itu adalah puisi. Dan anak-anak merupakan perwujudan puisi yang paling hakiki. Inilah yang selalu saya tanamkan dalam diri saya,” kata gadis gemini yang mengaku menyukai anjing pudel ini lepas dan bijaksana.
Di tengah keriangan hidupnya, remaja yang mengaku sangat dekat dengan orang tuanya ini selalu mencari pendewasaan dirinya melalui buku-buku bacaan. Apapun itu! Kedua matanya seakan selalu haus dengan ilmu apapun yang didapatkannya dari membaca. “Minimal lima jam dalam sehari, saya harus menyempatkan diri membaca buku. Tak peduli apa jenis bacaannya, yang penting hobi saya tersalurkan. Tapi tetap saja yang paling asyik itu, bercanda dengan anak kecil dan bertingkah menjadi mereka, hahaha….,” tawanya lepas mengiringi senja itu.
Masa kanak-kanak memang senantiasa menjanjikan kesenangan dan ketenangan. Mungkin inilah yang selalu membawa kerinduan bagi Enny untuk kembali ke masa itu. Dan mungkin juga, rasa cinta, kejujuran, dan kepolosan anak-anak ini yang ingin diberikannya kepada semua orang yang berada di sekitarnya. Ah, Enny……

Mang Dian, Kucari Kunang-Kunang yang Tak Ketemu

Teks & Foto: Nanoq da Kansas

Dia pernah bercerita bahwa cowok yang pintar bermain musik punya peluang besar untuk memikat hatinya. Sekarang, dia telah meninggalkan cerita itu. Bukan karena dia tak suka lagi dengan cowok atau musik, tetapi sekarang ada yang lebih membuatnya penasaran. “Kunang-kunang! Saya jatuh hati pada kunang-kunang. Saya takjub, kenapa Tuhan menciptakan mahluk mungil dan lucu itu. Kunang-kunang yang menghiasi malam, apakah maknanya bagi kehidupan?” Tanyanya kepada entah siapa.

Begitulah dara yang sebentar lagi akan meninggalkan bangku SMA ini. Banyak bicaranya, banyak senyum dan banyak tertawanya. “Entahlah, saya kok sudah cerewet sejak baru mekeplos dari rahim ibu. Habis, memang banyak hal yang dapat kita bicarakan atau ceritakan dengan teman-teman. Kehidupan ini begitu indah dan penuh warna. Maka, mari kita ceritakan keindahan dunia kepada siapa saja. Gak usah ngomongin perang yang terus berkecamuk di belahan dunia sana, atau gak usah bergunjing politik yang gak bisa dimengerti. Mari kita bicara soal kunang-kunang saja hehehe…,” lepas rawanya.

Ni Nyoman Dian Oktarini, demikian nama yang tercantum dalam buku rapor sekolahnya. Libra kelahiran 1989 ini, menapaki dunia modeling Bali berawal dari kontes modeling lokal Jembrana. Ceritanya cukup unik juga. Saat itu, yang menjadi model sebenarnya adalah kakaknya. Tetapi pada sebuah event, sang kakak mendadak sakit. Mang Dian dipaksa untuk ikut kontes mewakili kakaknya. Maka latihan pun dilakukan dalam waktu yang serba terbatas. Yang penting bisa melangkah di atas catwalk saja dulu, urusan lainnya bisa menyusul kemudian.

Tetapi hari itu ternyata tidak sekedar menjadi hari biasa. Kehadiran dan penampilan Mang Dian langsung menarik perhatian komunitas modeling Bali. Selanjutnya, posturnya yang semampai dan keluwesannya melenggang di atas catwalk, mengantarnya untuk meraih sederet predikat terbaik dalam berbagai kontes modeling.

“Saya ingin profesional,” ujarnya lagi. Lalu penyandang predikat The Best Catwalk, Juara I IFA Model Contest, Juara I AW Entertainment Bali 2006 ini memaparkan kiatnya untuk bisa tampil terbaik. “Harus serius. Apapun harus dilakoni dengan serius agar mencapai hasil yang memuaskan. Dan apapun jika dijalani dengan serius akan mampu mengantarkan kita pada profesionalisme,” demikian mantan Putri Hardy’s 2006 ini.

Tapi saat ini Mang Dian mengaku tengah mengurangi kegiatan modeling yang telah memberinya tambahan uang saku. “Saya bersiap untuk ujian sekolah dan ujian nasional. Sejujurnya, saya sangat tegang menghadapi ujian nasional nanti. Standar kelulusannya makin naik terus,” ujarnya.

Kembali ke soal kunang-kunang, penggemar bakso den es buah yang punya cita-cita kuliah pada jurusan hukum ini mengaku tertarik kunang-kunang bukan tanpa alasan. Di samping karena memang indah dan penuh misteri, kunang-kunang menurutnya bisa dibaca sebagai pertanda alam. “Kata orang-orang tua, dulu kita sangat mudah menemukan kunang-kunang. Tetapi sekarang sangat sulit. Saya sering berkeliling ingin melihat kunang-kunang, tapi sangat jarang bisa menemukannya. Kunang-kunang sekarang sangat langka. Ini adalah pertanda bahwa alam lingkungan hidup kita memang sudah tidak alamiah lagi. Sudah begitu banyak mahluk hidup yang kehilangan habitatnya karena dirusak oleh manusia dengan alasan pembangunan dan kemajuan teknologi,” katanya berapi-api.

“Saya kuatir, generasi di bawah kita nanti malah tak tahu sama sekali serangga yang bernama kunang-kunang itu karena tak pernah lagi melihatnya. Sekarang yang bertambah banyak justru lalat. Dan ini pertanda bahwa lingkungan kita semakin jorok dan kotor. Dan itu berarti pula hidup kita semakin terancam oleh ulah kita sendiri yang tidak bisa memelihara kelestarian lingkungan. Ini harus dikampanyekan agar semua orang segera menyadarinya,” demikian penggemar jaja sagon ini makin bersemangat.

Pipiet, Tidak Takut Kulitnya Hitam

Teks & Foto: Nanoq da Kansas
Lahir di dekat pantai, tetapi lebih menyukai gunung. Dua kekuatan alam itu sangat berpengaruh pada dirinya. Bola umpan dari temannya pun dihempas dengan pukulan smash sepenuh tenaga menembus daerah lawan. Ada yang masuk dan menjadi point, tetapi ada juga yang terblokir dan sia-sia. Saat itu, hanya dua kemungkinan yang menunggunya. Menang atau kalah. Keduanya bukan pilihan, tetapi keduanya adalah resiko. Toh ini hanya sebuah permainan yang pasti akan berakhir dengan cepat. Sementara kehidupan menanti dengan permainan-permainan lain yang jauh lebih rumit, jauh lebih tak terduga dengan resiko yang juga tak bisa dipilih. “Saya ingin membuat bangga Ibu dan orang-orang yang telah mendukung saya,” demikian motivasi yang selalu ia tumbuhkan dalam dirinya.

Sungguh, Pipiet masih sangat belia. Tetapi Pipiet yang bernama lengkap Fitri Hardiyanti Anwar, sudah tercatat sebagai pemain inti Provinsi Bali untuk cabang olah raga Bola Voly. “Saya mulai dimasukkan sebagai atlit PBVSI Bali sejak kelas tiga SMP. Saat itu langsung ikut mewakili Bali ke Surabaya. Lalu mewakili Bali dalam Kapolri Cup I dan kami mendapat peringkat III. Tahun 2006 ini ikut lagi dalam Kapolri Cup II di Madiun, sayangnya kami kalah,” ceritanya dengan nada polos khas remaja.

Menekuni tari bali sejak di sekolah dasar hingga tamat SMP, Penari Oleg Tambulilingan ini pun lebih menyukai gunung daripada laut dan lebih menyukai senja hari ketimbang pagi. Di hati Pipiet, gunung adalah sebuah kekuatan sekaligus keanggunan, sedangkan senja adalah keindahan yang penuh misteri. “Senja lebih mengerti perasaan kita karena saat itu sang waktu terasa lebih ramah. Sedangkan pagi hari semuanya terlihat begitu sibuk, terburu-buru, dikejar waktu, dan... saya masih ngantuk,” candanya dengan senyum yang memesona.

Di dalam kelas, Pipiet mengaku paling suka pelajaran Bahasa Indonesia karena baginya Bahasa Indonesia itu unik. Pipiet selalu merasa lambat untuk memahami angka-angka. “Nanti saya akan memilih jurusan sosial saja,” kata alumni SMP Negeri 4 Melaya ini dengan tegas. Soal makanan, Pipiet paling suka nasi goreng sea food. Kalau disuruh memilih warna-warna, ABG yang tak takut kulitnya hitam ini akan memilih warna hitam, putih dan biru. “Saya merasa warna-warna itu bisa membuat hati tenteram,” ujarnya datar. Sebagai anak sulung dari dua bersaudara, sejak kelas tiga sekolah dasar Pipiet sudah tidak bisa lagi merasakan kehangatan kasih seorang ayah. “Ayah saya meninggal ketika saya masih kelas tiga sekolah dasar. Jadi, pada ibulah saya menemukan semuanya,” matanya menerawang mungkin membayangkan Sang Ibu yang jauh.

Ya, Pipiet sejak mulai masuk SMA tinggal cukup berjauhan dengan ibu dan adiknya. Sang Ibu masih di Gilimanuk, Pipiet bersama Mbah di Negara. Rasa kangen selalu ada, tetapi baginya yang lebih penting dari kangen adalah pendidikan dan ilmu pengetahuan. “Lagipula saya sudah cukup terbiasa jauh dari rumah. Saat-saat pemusatan latihan di Denpasar, saya bisa seminggu atau lebih di wisma atlit,” tuturnya pula.

Sebagai atlit perempuan, cantik dan masih remaja, Pipiet dengan lugu bisa bercerita tentang romantika di tempat latihan atau lokasi pertandingan. Tentu tidak sedikit yang suka menggoda-goda, atau bahkan ada cinta lokasi. Tetapi Pipet bisa menyikapinya dengan sikap dewasa. “Saya masih remaja. Saya menyikapi hal-hal seperti itu sebagai bagian dari persahabatan saja. Kalau ada yang keterlaluan, ya saya cuekin. Lagian kan hanya kenal di situ saja,” demikian si penyayang kelinci ini memaparkan kiatnya menghadapi godaan. Ditanya perasaannya pada setiap menghadapi pertandingan, dia mengaku masih suka degdegan, grogi dan cemas. “Apalagi kalu melihat lawan-lawan yang sudah senior, saya awal-awalnya masih grogi. Tetapi perasaan itu dengan cepat hilang kalau pertandingan sudah berlangsung.”

Banyak temannya yang menganggap Pipiet tomboi. Mungkin karena penampilannya yang selalu simpel dan tidak terlalu urusan dengan mode. Tetapi toh dia mengaku bisa cukup lama kalau mandi. Sementara waktu senggangnya bersama Mbah, dia gunakan untuk membaca atau nonton film. “Saya menyukai film drama, tetapi yang tidak cengeng. Saya juga suka menggambar dan kadang-kadang menyanyi dangdut di kamar hehehe...,” tawanya lepas di sore itu.

Diah, Layang-layang, Cintailah...

Teks: Wendra Wijaya

Layang-layang itu senantiasa bergerak mengikuti angin senja. Melenggok dan berputar dengan anggunnya di atas kepala kami sore itu. Sementara dari tatap bening gadis Scorpio itu, ada pancaran keikhlasan tetapi sekaligus penuh semangat memandang langit yang mendung. Rasa cinta dalam persahabatannya dengan semesta, rupanya telah menempanya hingga tumbuh sebagai sosok remaja yang sederhana.

“Alam telah banyak memberi inspirasi pada saya. Bagi saya yang terindah itu adalah, bagaimana kita dapat menjadi bagian dari alam. Setidaknya, bisa memberi sedikit warna saja dalam kehidupan ini,” demikian Diah, di suatu senja. Sederhana, tapi sebuah pengakuan yang mengandung sebuah kekuatan nan penuh misteri. “Tapi bagi saya, main layangan tetap yang paling asyik haha....,” pemilik nama lengkap Ni Putu Diah Prasinthya Oktarini Dewi ini tertawa lepas.

Areal pesawahan yang tak begitu jauh dari rumahnya di selalu menjadi tempat favorit bagi gadis yang akan memasuki usia yang ke-18 pada 30 Oktober mendatang. Meski memiliki kulit putih mulus seperti yang diidam-idamkan gadis sebayanya, Diah yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di SMAN 1 Negara tak menganggapnya sebagai kelebihan. Baginya, alam telah memberikan yang terbaik bagi siapa saja, tak membedakan warna kulit atau warna rambut. Ya, selalu alam.

Mengaku gemar memasak, Diah tiba-tiba begitu bersemangat mengatakan bahwa hasil masakannya selalu enak. “Pasti lezat. Buktinya, bapak selalu nambah makan kalau saya yang masak,” ujarnya.

Toh dalam pengalamannya, Diah tak selalu mengalami yang baik dan indah-indah saja. Banyak juga rintangan dan pengalaman pahit yang pernah ditemuinya. “Kenapa harus sedih? Bukankah lebih baik menerima apa yang sudah ditetapkan menjadi bagian hidup kita? Alam dan kehidupan sudah sangat bijak memberi apa yang pantas kita terima. Jadi, tugas kita sebagai remaja dan sebagai manusia pada umumnya adalah, selalu berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari. Jangan pernah putus asa. Cintailah diri sendiri, cintailah orang lain, cintailah kehidupan ini,” kata-katanya mengalir seperti air sungai di antara jajaran pohon cemara.

Cara menjalani hidup dengan sederhana inilah yang kemudian mampu membawa mantan Putri Hardy’s dan Jegeg Bali 2006 ini meraih segudang prestasi. “Jujur saja, setiap kali lomba saya berusaha melepas beban yang mengganjal sampai hati ini benar-benar ikhlas dan damai untuk mengikuti kegiatan,” kata remaja yang hobi memasak dan menari ini.

Obrolan kami sore itu diiringi rintik kecil hujan bulan Juni. Angin nakal yang datang membawa tempias, terabaikan dengan berbagai cerita Diah yang tak putus-putus. Beberapa teman pelukis yang kebetulan datang pun ikut nimbrung dan mendengarkan berbagai kisah yang meluncur dari bibir Diah. Luar biasa daya pikat darinya. Bukan karena kecantikannya, tapi pemahaman-pemahaman tentang kehidupanlah yang membuat dara pemilik suara merdu ini selalu didekati teman-temannya.

Ya, kendati memiliki wajah cantik, toh gadis penyandang beberapa gelar juara fotogenic ini mengaku tak muluk-muluk dalam memilih pacar. Cukup dengan berpenampilan rapi, wangi, tinggi dan setia, seorang pria dapat menarik perhatiannya. Kalau ingin menarik hatinya, seorang pria harus bisa menghargai wanita. “Seorang pria tak boleh seenaknya main sentuh wanita. Memegang tangan saja ada aturannya kok. Jangan asal selonong,” cetusnya Tapi Diah akhirnya juga mengaku bahwa mungkin karena sifatnya yang tergolong “agak kolot” dalam urusan cinta, maka cowok tak betah lama-lama bersamanya. “Tapi gak apa, saya akan tetap teguh untuk menempatkan batas-batas kewajaran di atas hubungan yang saya jalin dengan cowok. Saya yakin nanti juga ketemu yang tepat. Biar dibilang primitif, yang penting itu tidak menghancurkan,” ucapnya sambil menatap hamparan sawah yang tepat berada di depan kami.

Layang-layang itu kemudian kembali berputar, melenggok, bahkan menukik turun. Kami sama-sama menengadah menikmati dan menghayati makna yang tersirat dari sebuah layang-layang. Kemudian ia tersenyum, entah untuk siapa. Mungkin untuk layang-layang yang telah mengajarkannya tentang cinta, keikhlasan, persahabatannya dengan semesta.

Gek Riris, Gerimis Temani Sepiku...

Teks: Wendra & Nanoq da Kansas

Foto: De'a Yogantara
Rintik gerimis yang membasahi pucuk-pucuk dedaunan, menciptakan semburat pelangi di sore itu. Keheningan pun menciptakan rasa tenteram pada pertemuan kami. “Berteduhlah, sekalipun di luar hanya gerimis,” ucap dara itu. Lalu kami masuk lebih jauh di salah satu ruang Puri Singaraja, Buleleng, kediaman mahasiswi Undiksha itu. Nuansa religius begitu kental menyapa. Dan berbagai benda antik yang ditata sedemikian rupa, semakin mengristalkan aroma spriritul khas sebuah puri.

Kendati tubuh indahnya dibalut kebaya bergaya khas remaja, senja itu Gek Riris toh belum sepenuhnya dapat menghapus gurat duka di wajahnya. Kepergian Ayahandanya menghadap Sang Khalik beberapa waktu lalu sangat memukul perasaannya. “Tapi ya, beginilah konsekuensi kehidupan. Manusia lahir, tumbuh dan diakhiri dengan kematian. Meski sedih, semuanya harus tetap berjalan. Bukankah kehidupan tidak boleh terhenti oleh proses kematian seseorang? Memang terasa sulit, tetapi kehidupan harus tetap berjalan. Belakangan ini, gerimis adalah teman kesedihan saya,” begitu puitisnya dara pemilik nama lengkap Anak Agung Ayu Rahadiani Cwari ini.

Dan gerimis pun memang menjadi teman dalam percakapan kami. Setidaknya, semburat pelangi yang membuat anggun cuaca sore itu, cukup menghibur hati. Sementara itu, bagi dara berusia 19 tahun yang lahir di Denpasar, 26 Juni ini, daya tangkapnya atas fenomena kehidupan yang kemudian dipahaminya dengan sederhana, telah mampu dijadikannya pemicu untuk mempersembahkan yang terbaik bagi kampung halamannya, Singaraja. Predikat “Jegeg Bali 2007” pun berhasil diboyongnya. “Kita tidak boleh asal-asalan ketika akan memulai sesuatu. Saya ingin dalam mengerjakan sesuatu harus benar-benar total dan tuntas. Tidak boleh setengah-setengah. Dan itu tentu membutuhkan keikhlasan. Kecerdasan itu tidak hanya dibangun dengan penjejalan ilmu-ilmu praktis, tapi juga harus dibangun dari wilayah spiritual dan pengendalian emosi,” ujar Riris seolah kepada dirinya sendiri.

Penyuka warna merah, hitam dan pink yang juga penghobi berbagai buku bacaan ini, memiliki minat yang begitu besar pada budaya dan bahasa Jepang. “Saya memilih jurusan Bahasa Jepang. Gadbatte kudasai, selamat sukses, hahaaaa…. Sekarang tidak banyak yang mempelajari budaya Jepang. Bagi saya, banyak pelajaran yang dapat diambil dan ditiru dari budaya Jepang, terutama kedisiplinan masyarakatnya. Kalau dibandingkan Jepang, negara kita tidak ada apa-apanya. Nah, mengapa kita tidak mencoba belajar dan menerapkan sisi-sisi positif dari budaya Jepang itu? Saya rasa itu akan bisa membawa perubahan yang lebih baik. Seperti yang saya dengar, untuk daerah di Bali mungkin baru Jembrana yang sedang mengadopsi dan menerapkan beberapa sisi positif budaya masyarakat Jepang,” lanjut pemilik kulit sawo matang ini.

Iya, Jembrana memang menjadi daerah yang sangat dikagumi pemilik tinggi badan 162,5 centimeter dan berat 50 kilogram ini. Kiprah anak-anak muda Jembrana dalam kesenian, menjadi makna dan nilai tersendiri di hati Riris. “Meski belum pernah datang ke Jembrana, saya telah banyak mendengar keberhasilan dan kemajuan Jembrana di bawah kepemimpinan Bupati Winasa. Keren banget! Jembrana yang dulunya hanya kabupaten kecil di Bali, kini sudah menjadi primadona di tingkat nasional bahkan internasional. Pergaulan kreatif pemuda Jembrana juga semakin membuat saya tertarik datang ke sana. Dari sisi seni budaya, karya-karya anak muda Jembrana semisal puisi dan musik, tentulah hasil dari pergaulan kreatif mereka dengan wawasan yang lebih luas serta tidak terlepas dari kerjasama dengan generasi yang lebih tua. Artinya, saya melihat generasi muda Jembrana adalah generasi yang berjiwa terbuka dan mau belajar keras,” demikian apresiasinya.

Segudang prestasi ditambah kharisma yang dimilikinya, tidak membuat anak kedua dari pasangan AA. Ngurah Dirgha (almarhum) dengan Sumarni Astuti ini berperilaku sebagai sosok yang merasa “lebih”. Kesederhanaan yang terpancar dari tutur kata dan perilakunya itu, juga menjadi anutannya dalam menentukan sosok pria idaman. “Lelaki yang mendapat tempat di hati saya adalah sosok yang bisa memberi kasih sayang yang tulus tanpa banyak menuntut. Sebenarnya dalam melakukan beberapa hal, saya banyak meminta saran teman,” Mereka juga yang telah menjadi sumber inspirasi dan motivator saya untuk melakukan segala sesuatu yang positif,” demikian gadis pengagum film Black Hawk Down inI.

Gerimis tiba-tiba berhenti. Mentari perlahan muncul dengan semburat yang cerah. Gek Riris termangu, entah memikirkan apa. Mungkinkah keindahan mentari selepas hujan telah memberinya harapan-harapan baru? Kemudian senyum manis tersungging di bibirnya. Entah untuk siapa. Mungkinkah untuk gerimis yang senantiasa setia menjadi teman sepinya? Entah!